Senin, 23 Desember 2019

Jelang Natal & Tahun Baru 2020, ke Mana Emas Melangkah?


                       

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas global malas gerak alias mager di sepanjang pekan lalu, padahal banyak isu yang seharusnya bisa memicu pergerakan besar emas. Tak hanya emas global, harga emas Antam pun sama tak banyak bergerak bahkan cenderung stagnan di 2 hari terakhir pekan lalu.


Apakah ini menjadi tanda emas sudah tidak menarik lagi? Apakah para investor mulai "membuang" emas?

Sepanjang pekan lalu, rentang pergerakan emas hanya di kisaran US$ 1.469-1.481/troy ons, sementara pada Jumat (20/12/2019) mengakhiri perdagangan di level US$ 1.477,94/troy ons, melemah 0,07% di pasar spot, menurut data Refinitiv.

Setidaknya data tiga isu utama yang seharusnya membuat emas bergerak besar, baik itu menguat ataupun melemah.






Isu pertama yakni perang dagang AS-China yang memasuki babak baru dengan kesepakatan dagang fase I pada Jumat (13/12/2019).


Kedua, beralih ke Inggris, risiko terjadinya hard Brexit yang meningkat seharusnya juga bisa "melecut" harga emas.

Setelah Partai Konservatif pimpinan Perdana Menteri (PM) Boris Johnson memenangi Pemilihan Umum (Pemilu), ia ingin mengamandemen undang-undang keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Withdrawal Agreement Bill).

Jumat kemarin, PM Johnson sudah mengajukan amandemen tersebut ke Parlemen Inggris. Hasilnya mayoritas anggota parlemen setuju, dan akan dilakukan pembahasan lebih lanjut di awal tahun depan.

Dengan amendemen tersebut, Inggris kemungkinan besar akan bercerai dari Uni Eropa (Brexit) pada 31 Januari 2020, dan masa masa transisi keluarnya Inggris dari Uni Eropa berlangsung hingga akhir tahun depan. Amandemen Withdrawal Agreement Bill menghalangi terjadinya perpanjangan masa transisi.

Dengan singkatnya masa transisi, pembahasan perjanjian dagang pun harus dipercepat sehingga PM Johnson bakal melakukan pendekatan lebih keras.

Hal ini memicu kekhawatiran tidak akan ada kesepakatan dagang antara Inggris dan Uni Eropa alias hard Brexit yang bisa mengancam perekonomian Inggris. Hal tersebut semestinya membuat daya tarik emas kembali meningkat. Namun nyatanya, harga emas masih bebal dan tidak banyak bergerak Jumat pekan lalu.

Isu ketiga yakni Presiden AS, Donald Trump yang resmi dimakzulkan oleh House of Representative (DPR) pada hari Rabu waktu setempat. Meski demikian, proses pemakzulan Trump masih belum selesai.

Pengadilan pemakzulan Trump akan digelar Senat AS, yang akan menentukan apakah Presiden AS ke-45 ini harus keluar dari Gedung Putih atau membebaskannya dari dakwaan penyalahgunaan kekuasaan dan menghalangi penyelidikan Kongres AS atas dirinya. Dua dakwaan tersebut membuat Presiden Trump dimakzulkan di DPR AS.

Dengan banyaknya isu tersebut, emas seakan cuek, dan tetap bergerak di situ-situ saja.

Bagaimanapun juga emas merupakan logam mulia yang daya tariknya tidak akan pernah hilang, mungkin hanya menurun.

Penurunan daya tarik emas biasanya terjadi ketika aset-aset berisiko mengalami penguatan. Dan di pekan lalu, bursa saham masih menunjukkan penguatan yang membuat emas kurang menarik.

Bursa saham AS (Wall Street) yang menjadi kiblat bursa global bahkan kembali mencetak rekor tertinggi Jumat lalu. Dalam sepekan, indeks S&P 500 menguat lebih dari 1,5% dan mencatat penguatan empat pekan beruntun, sementara Indeks Dow Jones dan Nasdaq masing-masing naik 1,2% dan 2,1%.

Fakta emas tidak merosot di kala Wall Street mencetak rekor menjadi indikasi emas masih cukup kuat, dan sedang menunggu momen untuk kembali bergerak, mungkin melesat lagi atau malah akan merosot tajam akibat "dibuang" oleh para investor yeng lebih memilih aset berisko dengan imbal hasil tinggi.

"Perhatian tertuju pada bursa saham yang sedang panas saat ini. Dan masih ada beberapa investor yang membeli emas sebagai aset aman jika bursa saham berbalik turun" kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar di RJO Futures, sebagaimana dilansir CNBC International.

Status emas sebagai aset aman (safe haven) menjadi salah satu faktor yang membuat harganya meroket di tahun ini. Di awal September, emas mencapai level tertinggi lebih dari enam tahun US$ 1.557/troy ons, tetapi selepas itu terus mengalami koreksi hingga di penghujung tahun 2019.

Tahun 2019 tersisa kurang dari dua pekan, dan pekan depan akan ada Libur Natal. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab mager-nya harga emas.

"Trader dan investor mengalihkan perhatian mereka ke musim libur, termasuk memperbaiki laporan keuangan mereka. Jadi minat serta volume trading akan menurun dalam beberapa pekan ke depan" kata Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals, sebagaimana dilansir CNBC International.

Melihat kondisi tersebut, harga emas sepertinya masih akan mager hingga penghujung tahun nanti.








Harga Emas Antam Flat!
Harga emas acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau emas Antam stagnan di Rp 702.000 per gram pada perdagangan Sabtu lalu (21/12/2019) dari posisi Jumat meskipun ada kekhawatiran pasar terhadap rencana fast Brexit yang diikrarkan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.


Berdasarkan harga Logam Mulia di gerai Butik Emas LM - Pulo Gadung di situs logammuliamilik Antam pada Sabtu lalu (21/12/19), harga tiap gram emas Antam ukuran 100 gram masih berada di Rp 70,2 juta per batang, sama dengan posisi Jumat. Adapun harga 1 gram, Rp 752.000.

Flat-nya harga emas Antam itu tidak sejalan dengan harga emas di pasar spot global yang melemah pada perdagangan Jumat pekan lalu.





Emas Antam kepingan 100 gram lumrah dijadikan acuan transaksi emas secara umum, tidak hanya emas Antam. Harga emas Antam di gerai penjualan lain bisa berbeda.

Di sisi lain, harga beli kembali (buyback) emas Antam juga stagnan Rp 664.000/gram hari ini dari harga kemarin.

Harga itu dapat menunjukkan harga beli yang harus dibayar Antam jika pemilik batang emas bersertifikat ingin menjual kembali investasi tersebut. Selain emas Antam biasa, Antam juga menawarkan emas batik dan emas tematik serta menampilkan harga hariannya di situs yang sama.

Di sisi lain, Antam juga menjual emas batangan dengan dasar ukuran mulai 1 gram hingga 500 gram di berbagai gerai yang tersedia di berbagai kota, dari Medan hingga Makassar.

Harga dan ketersediaan emas di tiap gerai bisa berbeda. Harga emas tersebut sudah termasuk PPh 22 0,9%. Masyarakat bisa menyertakan NPWP untuk memperoleh potongan pajak lebih rendah yaitu 0,45%.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

harap beri tanggapan positif, sopan dan membangun.