Kamis, 16 Januari 2020

Galau! Pascadeal AS-China, Emas Bingung Tentukan Arah Tujuan






Jakarta, CNBC Indonesia - Pada perdagangan pagi ini logam mulia emas diperdagangkan menguat tipis cenderung flat setelah Amerika Serikat (AS) dan China resmi teken kesepakatan dagang fase satu. Namun perjanjian yang sudah disepakati itu masih menyisakan pertanyaan dan dinilai ringkih oleh banyak pihak.

Kamis (16/1/2020) harga emas di pasar spot berada di level US$ 1.556,2/troy ons. Harga emas mengalami apresiasi tipis 0,02% dan cenderung flat dibanding posisi penutupan perdagangan kemarin (15/1/2020).


"Hari ini, kami mengambil langkah penting, yang belum pernah dilakukan sebelumnya dengan China, yang akan memastikan perdagangan yang adil dan saling menguntungkan," kata Trump, sebagaimana dikutip dari AFP.

"Bersama-sama, kita (akan) memperbaiki kesalahan masa lalu," kata Trump lagi.

"Negosiasi ini sulit bagi kami. Tapi ini terobosan yang sangat luar biasa."
Kemarin, AS dan China resmi menandatangani kesepakatan dagang fase satu di Gedung Putih. Setelah berseteru kurang lebih 18 bulan terakhir, keduanya punya itikad untuk damai. Namun dalam seremoni itu, Beijing tak diwakili oleh sang Presiden Xi Jinping, melainkan Perdana Menterinya yakni Liu He.

Dalam kesempatan itu Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa kesepakatan yang diambil merupakan langkah besar untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan merupakan sebuah terobosan.
Di sisi lain Perdana Menteri China Liu He juga membacakan surat dari Presiden China Xi Jinping yang bunyinya, ""Kesepakatan ini baik untuk China, untuk AS dan seluruh dunia,"


Kesepakatan fase satu itu berisikan bahwa AS akan memangkas tarif yang besarnya 15% menjadi setengahnya atau 7,5% untuk produk impor asal China senilai US$ 120 miliar. Sebagai balasan China akan membeli berbagai barang dan jasa dari AS senilai US$ 200 miliar dalam jangka waktu dua tahun.

Dalam perjanjian itu, China akan membeli barang dan jasa senilai US$ 77 miliar pada 2020 dan US$ 123 miliar pada 2021. Secara komposisi China akan membeli berbagai produk dan jasa mulai dari produk manufaktur (US$ 32,9 miliar) dan pertanian (US$ 12,5 miliar) , energi (US$ 18,5 miliar) hingga jasa (US$ 12,8 miliar) AS.

Untuk produk manufaktur yang akan dibeli China dari AS meliputi perlatan industri, perlatan listrik, produk obat-obatan, kendaraan bermotor dan instrumen optik. Sedangkan untuk produk agrikultur yang akan dibeli meliputi daging, sereal, kapas, seafood dan minyak nabati.

Sampai sejauh ini kesepakatan tersebut masih menyisakan tanda tanya terutama di tataran implementasi nantinya. Selain itu penerapan tarif masih berlaku, walau dipangkas menjadi setengahnya tetap saja tarif masih tinggi mengingat masih ada barang China senilai US$ 250 miliar yang kena tarif 25%.

"Kekhawatiran masih mungkin ada karena kita tak melihat penghapusan tarif" kata Edward Moya analis pasar senior di OANDA, mengutip Reuters.

"Risiko tersebut membuat harga emas berpotensi naik ke level US$ 1.580 dalam beberapa minggu ke depan. Namun untuk saat ini, emas dapat bertahan di US$ 1.540" tambahnya.

Tensi antara keduanya masih mungkin terjadi. Untuk masalah tarif, hal itu akan dibahas di perundingan fase dua nanti. Namun pasar harus bersabar menunggu pemilu AS usai. Pasalnya sebelum pemilu AS usai yang kebetulan jatuh pada November nanti, tak akan ada kesepakatan fase dua.


Faktor ini yang membuat harga emas tak kunjung melorot. Emas sebagai aset minim risiko banyak diburu investor kala kondisi global sedang tak kondusif karena memiliki store of value. Perburuan ini membuat harga emas melambung tinggi. Hal ini terlihat saat hubungan AS-China sedang panas-panasnya tahun 2019, harga emas naik lebih dari 18% setahun.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

harap beri tanggapan positif, sopan dan membangun.