Senin, 13 Januari 2020

Ini Poin-poin Damai Dagang dengan China Versi AS





Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan komitmen China dalam kesepakatan perdagangan Fase I dengan AS tidak berubah selama proses penerjemahan yang panjang. Ia menyebut isinya akan dirilis minggu ini setelah dokumen itu ditandatangani di Washington pekan ini.

Salah satu isi kesepakatan adalah adalah persetujuan China untuk membeli produk pertanian AS senilai US$ 40 miliar hingga US$ 50 miliar setiap tahun dan total US$ 200 miliar barang AS selama dua tahun.

Ia juga menepis kabar yang menyebut bahwa ada perubahan dalam isi perjanjian dagang Fase I kedua ekonomi terbesar di dunia itu.

"Itu tidak berubah dalam terjemahan. Saya tidak tahu dari mana rumor itu dimulai," kata Mnuchin pada acara "Sunday Morning Futures with Maria Bartiromo", sebagaimana dilaporkan Reuters, Senin (13/1/2020).

 "Kami telah menyelesaikan proses penerjemahan yang saya pikir kami sebelumnya sebut sebagai masalah teknis," kata Mnuchin. "Dan bahasanya akan dirilis minggu ini. Jadi saya pikir itu - pada hari penandatanganan, kami akan merilis versi bahasa Inggris."

"Dan orang-orang bisa melihat. Ini adalah perjanjian yang sangat, sangat luas," tambahnya.

Seorang pejabat Gedung Putih sebelumnya pada hari Jumat mengatakan bahwa teks terjemahan terakhir China belum selesai. Padahal, undangan untuk acara penandatanganan oleh Presiden AS Donald Trump dan Wakil Perdana Menteri China Liu He pada 15 Januari di Gedung Putih, telah di sebar ke lebih dari 200 orang.

Kesepakatan dagang Fase I adalah langkah pertama menuju perjanjian perdagangan yang lebih komprehensif antara kedua negara. AS-China melahirkan kesepakatan itu pada Oktober lalu setelah melakukan perundingan di Washington. Kesepakatan itu diharapkan dapat menghentikan perang dagang mereka yang sudah berlangsung selama dua tahun terakhir.

Selain pembelian produk pertanian, berikut adalah beberapa hal lainnya yang perlu diketahui seputar kesepakatan dagang Fase I AS-China, sebagaimana dilaporkan Fox News, Minggu.



China Beli Produk AS Senilai US$ 200 Miliar
Pada bulan Desember, Beijing setuju untuk membeli barang-barang AS senilai US$ 200 miliar selama dua tahun ke depan. Trump juga telah menggembar-gemborkan prospek China membeli US$ 40 miliar hingga US$ 50 miliar produk pertanian Amerika.



Namun begitu, pada kenyataannya China belum mengkonfirmasi komitmen pembelian tersebut dan Negeri Tirai Bambu dalam sejarahnya tidak pernah membeli lebih dari US$ 26 miliar barang pertanian dari AS dalam satu tahun, menurut Reuters.

AS Kurangi Tarif Produk China
AS setuju untuk mengurangi tarif pada produk-produk China, meskipun diperkirakan akan mempertahankan tarif sekitar US$ 380 miliar dalam bentuk barang.

AS pertama kali menerapkan tarif atas barang-barang China pada 2018 lalu. Saat itu Trump menyebut China pantas mendapat tarif sebagai hukuman atas praktik dagangnya yang tidak adil, seperti pencurian kekayaan intelektual, transfer teknologi paksa, serangan cyber, pembuangan produk, mensubsidi perusahaan milik negara dan subsidi lainnya, menjual fentanyl ke AS dan melakukan manipulasi mata uang.

Teks Perjanjian Diposting Secara Online
Sumber perdagangan AS mengatakan kepada FOX Business bahwa teks perdagangan fase satu akan diposting online di situs web Perwakilan Dagang AS saat "momen" perjanjian ditandatangani pada hari Rabu.

Makan Malam Sebelum Tanda Tangan
Para pejabat perdagangan AS dan China diperkirakan akan berkumpul untuk makan malam pada malam sebelum upacara penandatanganan dan makan siang pada hari berikutnya setelah perjanjian ditandatangani.



Bukan Akhir Segalanya Bagi AS-China
Jauh dari Kata Selesai
Trump telah mengatakan sebelum kedua negara dapat menandatangani kesepakatan perdagangan yang lengkap atau kesepakatan dagang penuh, kedua negara masih harus berkutat pada kesepakatan dagang Fase II atau III.

"Di kemudian hari aku akan pergi ke Beijing di mana pembicaraan akan dimulai pada Fase Dua!" tulis Trump di Twitternya pada akhir 2019 lalu.

Trump juga telah menegaskan bahwa penandatangan kesepakatan dagang Fase II mungkin baru akan ditandatangani setelah pemilu AS dilangsungkan, yang berarti bisa hingga tahun depan.

"Saya pikir saya mungkin ingin menunggu untuk menyelesaikannya sampai setelah pemilihan, karena dengan melakukan itu, saya pikir kita dapat membuat kesepakatan sedikit lebih baik, mungkin kesepakatan yang jauh lebih baik," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, sebagaimana dilaporkan CNBC International, Kamis (9/1/2020).


Petani dan produsen optimistis
Perang dagang AS-China telah merugikan kedua negara. Di AS, petani dan produsen yang bergantung pada pembelian dan ekspor China bersikeras kesepakatan perlu untuk ditandatangani.

"Bagi petani, ini bisa menjadi sinar harapan pertama atau janji kosong lainnya," kata Brian Kuehl, direktur eksekutif organisasi perdagangan bebas Farmers for Free Trade, dalam sebuah pernyataan pada Desember lalu.

"Petani ingin akses berkelanjutan ke pasar China, bukan pembelian satu kali, jadi akan sangat penting untuk melihat bagaimana tarif pembalasan yang melumpuhkan ekspor pertanian diperlakukan dalam perjanjian ini."

Lebih lanjut ia mengatakan masih skeptis tentang kesepakatan Fase II. "Kita akan percaya ketika kita melihatnya," kata Kuehl.

Ia juga ragu pembelian senilai US$ 50 miliar yang dijanjikan China akan bisa mengganti kerugian petani AS dalam dua tahun terakhir, karena China membeli hanya sekitar US$ 26 miliar barang pertanian sebelum perang dagang dimulai pada 2017, katanya.




Ada Perundingan Berikutnya
Enam Bulan Lagi
Selain mengupayakan kesepakatan dagang Fase I, kedua negara juga dikabarkan akan mulai melanjutkan perundingan enam bulanan mengenai masalah ekonomi dan perdagangan yang pada 2017 telah dihentikan pemerintahan Trump.

Wall Street Journal melaporkan, diskusi semacam itu sebelumnya telah dilakukan selama era pemerintahan Presiden George W. Bush dan dilanjutkan hingga pemerintahan Presiden Barack Obama.

Perundingan yang digagas Menteri Keuangan AS era Bush, Henry Paulson itu awalnya dilakukan dua kali setahun. Namun pada era Obama perundingan dilakukan menjadi hanya setahun sekali.

"Waktu diadakannya kembali perundingan dijadwalkan akan diumumkan pada hari Rabu ketika pemerintahan Trump menandatangani perjanjian perdagangan Fase I dengan China di Washington." tulis WSJ, sebagaimana dikutip AP News, Minggu (12/1/2020).

Media itu menambahkan, pembicaraan mengenai hal itu akan terpisah dari negosiasi kesepakatan perdagangan Fase II, yang akan mencakup sejumlah masalah kontroversial yang melibatkan kebijakan China yang dianggap pemerintahan Trump menyalahi aturan. (hps/hps)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

harap beri tanggapan positif, sopan dan membangun.