Kamis, 02 Januari 2020

Diramal Bisa Rp 900.000/gram, Awal 2020 Emas Antam Mager




Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas investasi ritel kepingan acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM/Antam) stabil pada Rp 713.000/gram hari ini. Stabilnya harga emas Antam itu tidak sejalan dengan koreksi tipis kemarin meskipun tren penguatan emas dunia yang masih terjadi.

Penguatan emas dunia dikaitkan dengan tren penguatan musiman, kali ini di awal tahun yang biasa disebut 'January Effect', karena kehawatiran dunia sedang mereda karena adanya kepastian pertemuan damai dagang Amerika Serikat (AS)-China tanggal 15 Januari.

Stabilnya harga emas Antam yang terjadi itu membuat harga instrumen investasi tersebut masih bertahan di atas level psikologis Rp 700.000/gram. Data di situs logam mulia milik Antam hari ini (2/1/20) menunjukkan besaran harga emas kepingan 100 gram berada pada Rp 71,3 juta/batang yang sama dengan posisi akhir 2019.






Hari ini, harga beli kembali (buy back) emas Antam di gerai resmi juga stabil di Rp 678.000/gram harga terakhir tahun lalu.

Harga itu dapat menunjukkan harga beli yang harus dibayar Antam jika pemilik batang emas bersertifikat tersebut ingin menjual kembali investasinya di gerai resmi.

Harga emas Antam itu mengalami stagnansi ketika harga emas di pasar spot global kemarin turun tipis menjadi US$ 1.516,89 per troy ounce (oz) dari posisi sehari sebelumnya US$ 1.517,01/oz. Hari ini, harga emas masih naik lagi ke US$ 1.519,01/oz.

Selain emas Antam biasa, Antam juga menawarkan emas batik dan emas tematik serta menampilkan harga hariannya di situs yang sama.

Di sisi lain, Antam juga menjual emas batangan dengan dasar ukuran mulai 1 gram hingga 500 gram di berbagai gerai yang tersedia di berbagai kota, dari Medan hingga Makassar.

Harga dan ketersediaan emas di tiap gerai bisa berbeda. Harga emas tersebut sudah termasuk PPh 22 0,9%. Masyarakat bisa menyertakan NPWP untuk memperoleh potongan pajak lebih rendah yaitu 0,45%.


Naik-turunnya harga emas ukuran kecil itu biasanya mengindikasikan risiko pada hari kerja sebelumnya.

Beberapa faktor yang memengaruhi harga emas adalah nilai tukar rupiah, penawaran-permintaan, permintaan industri emas, isu global, tingkat inflasi, dan tingkat suku bunga.

Penguatan harga emas Antam biasanya mencerminkan kecenderungan masyarakat untuk memburu emas ritel ketika kondisi tidak kondusif, sehingga mencerminkan fungsi logam mulia sebagai instrumen yang dinilai lebih aman (safe haven) untuk masyarakat di dalam negeri.





Catat! Harga Minyak Mentah Diramal Bakal Kinclong di 2020





Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar minyak mentah diramal akan diwarnai dengan kenaikan harga di tahun 2020. Pemangkasan produksi minyak negara produsen minyak serta kian dekatnya Amerika Serikat (AS) dan China dengan kata damai ditengarai jadi pemicunya.


Sepanjang tahun 2019, rata-rata harga minyak mentah berjangka jenis Brent berada di US$ 64,5/barel. Harga minyak mentah berjangka acuan AS yaitu WTI berada di rata-rata US$ 57/barel. Jika dibandingkan dengan posisi awal tahun lalu (year on year/yoy), harga minyak Brent naik 23,2% dan minyak WTI naik lebih tinggi hingga 35,3%.



Pada awal tahun hingga Mei, harga minyak mentah bergerak naik dan menyentuh level tertingginya dalam setahun. Kenaikan ini dipicu oleh upaya pemangkasan produksi minyak oleh negara-negara pengekspor minyak dan koleganya (OPEC+).



Namun, eskalasi perang dagang yang terjadi membuat harga minyak anjlok pada Juni. Selanjutnya harga minyak bergerak fluktuatif. Pada Juni OPEC+ kembali bertemu dan memutuskan untuk memperpanjang waktu pemangkasan minyak sebanyak 1,2 juta barel per hari (bpd) hingga Maret 2020.



Pada periode Juni hingga tengah Oktober fluktuasi harga minyak tergolong tinggi. Pemicunya perang dagang dan ketegangan yang terjadi di Timur Tengah. Serangan drone pada fasilitas kilang minyak Arab di Abqaiq dan Khurais menyebabkan produksi minyak negara tersebut berkurang hingga lebih dari 5 juta bpd. Jumlah tersebut setara dengan lebih dari 5% kebutuhan minyak global. Akibatnya harga minyak meroket hingga 15%.



Lonjakan harga minyak tak terjadi dalam waktu lama, hanya satu hari saja. Setelah itu harga minyak anjlok. Harga minyak terus turun ketika pasokan minyak kembali pulih di akhir September, jauh lebih cepat dari janji Arab Saudi untuk menormalkan produksi minyaknya setelah serangan.



Tak berselang beberapa lama, giliran kapal tanker Iran yang mengangkut minyak di sekitar pelabuhan Arab mendapat serangan rudal yang menyebabkan kebocoran dan tumpahnya minyak. Peristiwa tersebut terjadi 11 Oktober 2019 yang menyebabkan harga minyak naik 2% lebih. Dampaknya memang tak sebesar ketika serangan dilancarkan ke fasilitas kilang minyak milik Saudi Aramco.



Sejak pertengahan Oktober, harga minyak mentah berjangka mencatatkan reli panjang hingga akhir tahun. Harga minyak berjangka Brent telah naik 14,8% (point to point), sementara harga minyak berjangka WTI naik lebih tinggi hingga 17,2% (point to point).



Reli harga minyak menjelang akhir tahun disokong oleh dua faktor utama. Pertama kabar AS dan China yang sepakati perjanjian dagang fase satu dan pemangkasan produksi minyak lebih dalam yang dilakukan oleh OPEC+.



Pertengahan Desember lalu secara tak terduga AS dan China yang terlibat dalam perseteruan perang dagang selama 18 bulan terakhir mengumumkan bahwa kedua belah pihak telah menyepakati perjanjian dagang fase pertama.





Ramalan Harga Minyak Tahun 2020


Kabar teranyar menyebutkan penandatanganan dan seremoni akan dilakukan pada 15 Januari 2020 di Gedung Putih yang akan dihadiri oleh kedua perwakilan dagang tertinggi antara kedua negara. Hal tersebut disampaikan langsung Presiden AS Donald Trump melalui cuitannya di twitter.


"Saya akan menandatangani perjanjian Fase I yang sangat besar dan komprehensif dengan China pada 15 Januari. Seremoni akan dilakukan di Gedung Putih. Delegasi tingkat tinggi dari China akan datang. Selepas itu, saya akan datang ke Beijing dan memulai pembicaraan Fase II," cuit Trump di Twitter.


Menurut Peter Navarro selaku penasihat perdagangan Gedung Putih, kesepakatan perdagangan fase satu akan memuat dokumen setebal 86 halaman. Isinya antara lain membahas larangan pemaksaan transfer teknologi dan menyinggung soal manipulasi mata uang.


Perang dagang yang terjadi telah membuat ekonomi global mengalami turbulensi. Ekonomi AS dan China juga terkena dampaknya. Sektor manufaktur kedua negara dengan konsumsi minyak terbesar di dunia mengalami kontraksi. Hal tersebut tercermin dari angka indeks PMI manufaktur kedua negara yang berada di bawah angka 50.



Ketika kedua negara dengan perekonomian terbesar di dunia kembali rujuk, harapan ekonomi global akan kembali pulih. Perang dagang antara keduanya telah membuat volume perdagangan terkontraksi dan perekonomian global melambat.



Faktor kedua yang membuat harga emas naik jelang akhir tahun adalah keputusan OPEC untuk menambah volume pemangkasan produksi minyak pada pertemuan 5-6 Desember lalu di Vienna. OPEC memutuskan untuk menambah pemangkasan produksi minyak 500 ribu bpd. Artinya mulai 1 Januari 2020, produksi minyak OPEC harus terpangkas 1,7 juta bpd.



Tujuan utama pemangkasan produksi minyak adalah untuk menstabilkan pasar. Dua faktor di atas diperkirakan juga masih akan membuat harga minyak mentah bergerak ke utara pada 2020. Hal tersebut disampaikan oleh dua bank investasi global yaitu JP Morgan dan Goldman Sachs.



JP Morgan memperkirakan akan terjadi defisit minyak hingga 200 ribu bpd tahun 2020. Padahal di bulan September JP Morgan meramal tahun depan akan diwarnai oversuplly hingga 600 ribu bpd. JP Morgan meramal harga minyak mentah Brent berada di level US$ 64,5/barel sementara minyak WTI bertengger di US$ 59/barel.



Tak jauh berbeda dengan JP Morgan, Goldman Sachs juga meramalkan hal yang mirip. Akibat upaya OPEC untuk memangkas produksi minyak lebih dalam, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak mentah Brent bisa mencapai US$ 63/barel dan minyak WTI mencapai US$ 58,5/barel.



Walaupun harga minyak diramal naik tahun depan, dua faktor tersebut harus tetap menjadi perhatian. Pertama, walau AS-China sepakati perjanjian dagang fase satu, poin detail kesepakatan yang tertuang dalam dokumen perjanjian masih belum diungkap lengkap isinya.



Dampak kesepakatan awal terhadap perekonomian global juga masih perlu dicermati. Apakah signifikan atau tidak. Tak sampai di situ saja, kesepakatan yang dibuat masih ‘awal’ masih ada kesepakatan-kesepakatan dan perundingan lanjutan, sebelum kata damai benar-benar terucap dari kedua belah pihak.



Walau pemangkasan produksi oleh OPEC capaian rata-ratanya dari Januari-November mencapai 109%. Namun, beberapa negara OPEC dan koleganya masih memiliki komitmen yang rendah terhadap kesepakatan yang dibuat tersebut. Buktinya Kongo, Ekuador, Gabon, Iraq, Nigeria, Malaysia, Oman, Rusia, Sudan Selatan dan Sudan memiliki capaian rata-rata bulanan di bawah 100%.


Hal tersebutlah yang sempat membuat Arab Saudi sempat geram karena harus mengompensasi tindakan melanggar kuota produksi minyak tersebut dengan pemangkasan minyak lebih dalam. Walau OPEC sepakat memangkas lebih dalam produksi minyak 1,7 juta bpd tahun depan, komitmen dari negara-negara yang terikat juga harus tetap jadi sorotan.