Selasa, 07 Januari 2020

Rekor Tertinggi 6 Tahun, Goldman: Emas Lebih Baik dari Minyak






Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan serangan militer Amerika Serikat (AS) yang menewaskan pemimpin militer Iran, Jenderal Qasem Soleimani berdampak besar pada harga emas. Dalam beberapa hari terakhir, harga emas menguat signifikan karena khawatir ancaman resesi dunia.

Sepanjang 2019, harga emas di pasar spot tercatat menguat 17,9%. Jika periode tersebut diteruskan hingga hari ini, maka penguatan emas mencapai 22,8%.

Pada perdagangan kemarin, harga emas mencapai titik tertinggi dalam enam tahun pada level US$ 1.575,41/troy ons (Oz). Padahal di 2016, harga emas sempat menyentuh harga di bawah US$ 1.100/troy ons.


Ketika kondisi ekonomi dan politik global berkecamuk, emas sebagai aset minim risiko memang banyak diburu. Akibatnya harga jadi melambung.
Faktor pemicu utama naiknya harga emas di sepanjang 2019 apalagi kalau bukan perang dagang antara AS-China. Perang dagang yang bergulir dalam kurun waktu 18 bulan telah melukai ekonomi global.


Itulah yang terjadi di sepanjang tahun 2019. Namun jelang Natal, Washington dan Beijing berikan kado berupa kabar gembira. Keduanya sepakati perjanjian dagang fase satu.

Kabarnya seremoni penandatanganan dokumen setebal 86 halaman tersebut akan dilakukan di Gedung Putih pada 15 Januari nanti. Kabar tersebut bukannya membuat harga emas tertekan justru malah mendekati level psikologis US$ 1.500/troy ons. Pasalnya detail poin kesepakatan antara keduanya masih belum jelas.

Sementara pasar masih menunggu kejelasan serta kelanjutan hubungan dagang AS-China, dunia kembali dihebohkan dengan ancaman perang AS-Iran.

Akhir pekan lalu, jenderal militer Iran Quds Force Qassem Soleimani dikabarkan tewas bersama wakil komandan Popular Mobilization Force (PMF) Abu Mahdi al-Muhandis dalam serangan yang diluncurkan AS di Bandara Internasional Baghdad.

Perintah serangan tersebut merupakan arahan dari Presiden AS Donald Trump guna melindungi personel militer AS. Kabar tersebut diungkapkan melalui keterangan resmi Pentagon.

Trump mengancam jika Iran melakukan aksi retaliasi, dirinya tak segan menyerang 52 target sebagai balasan. Iran tak tinggal diam. Melalui Menteri Luar Negerinya, Mohammad Javad Azari-Jahromi Iran mengutuk keras tindakan AS.

Dia juga menyebut Trump seperti teroris layaknya ISIS dan Nazi. "Seperti ISIS, seperti Hitler, seperti Jenghis!," tulis Menteri Informasi dan Telekomunikasi Mohammad Javad Azari-Jahromi dalam akun Twitternya, Minggu (6/1/2020).

Sementara pimpinan revolusioner Iran Ayatollah Sayyed Ali Khameini tidak akan tinggal diam dan akan melakukan serangan balasan. Kekhawatiran bahwa perang akan berkecamuk membuat emas masih dilirik dan diburu.

Di sisi lain, kemungkinan The Fed tidak menaikkan suku bunga acuan juga semakin menguatkan harga emas. Walau ekonomi AS mengalami perlambatan, bank sentral AS The Fed masih melihat fundamental ekonomi Paman Sam yang masih kokoh dan penurunan suku bunga yang dilakukan pada 2019 bukan merupakan periode penurunan terus menerus. Sehingga, ini bisa menjadi senjata bagi sentimen positif untuk harga emas.

Di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran, emas mungkin memiliki nilai lebih kuat dibandingkan minyak. Hal ini setidaknya ditegaskan ahli strategi komoditas Goldman Sachs.

Goldman memperkirakan butuh 'gangguan' yang signifikan guna mempertahankan harga minyak di kisaran US$ 69 per barel.





"Skenario potensial sangat besar, (bisa saja) mencakup pasokan minyak atau bahkan peniadaan permintaan minyak, yang akan mempengaruhi terhadap harga minyak," kata Kepala Riset Komoditas Global Jeffrey Currie, seperti dilansir dari CNBC Internasional, Selasa (07/01/2020).

Ini berbeda dengan harga emas. "Sebaliknya, sejarah menunjukkan bahwa di bawah sebagian besar hasil, emas kemungkinan akan reli jauh melampaui level saat ini," tegasnya.



Timteng Panas, Harga Buyback Emas Antam Capai Rp 700.000/gram





Jakarta, CNBC Indonesia - Harga beli balik (buyback) emas investasi ritel kepingan acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM/Antam) naik Rp 7.000 menjadi Rp 700.000/gram hari ini, Senin (6/1/2020) dari akhir pekan lalu Rp 693.000/gram.

Naiknya harga buyback itu senada dengan kenaikan harga emas global, meskipun harga emas Antam per gram kepingan acuan 100 gram yang masih belum bergerak dari posisi akhir pekan lalu Rp 717.000/gram.

Penguatan emas dunia itu dikaitkan dengan sentimen geopolitik di Timur Tengah (Timteng), ada potensi perang antara Amerika Serikat (AS)-Iran yang memanas jelang akhir pekan lalu. 



Data di situs logam mulia milik Antam hari ini (6/1/20) menunjukkan harga buy back emas Antam di gerai resmi sudah naik duluan dibanding harga spot per gram dan sudah menyamai posisi Agustus tahun lalu.

Harga itu dapat menunjukkan harga beli yang harus dibayar Antam jika pemilik batang emas bersertifikat tersebut ingin menjual kembali investasinya di gerai resmi.

Harga emas Antam itu mengalami stagnansi ketika harga emas di pasar spot global akhir pekan lalu naik kencang ke menjadi US$ 1.551,4 per troy ounce (oz) dari posisi sehari sebelumnya US$ 1.528,85/oz. Hari ini, harga emas masih lanjut naik lagi ke US$ 1.575,5/oz.



Selain emas Antam biasa, Antam juga menawarkan emas batik dan emas tematik serta menampilkan harga hariannya di situs yang sama.

Di sisi lain, Antam juga menjual emas batangan dengan dasar ukuran mulai 1 gram hingga 500 gram di berbagai gerai yang tersedia di berbagai kota, dari Medan hingga Makassar.



Harga dan ketersediaan emas di tiap gerai bisa berbeda. Harga emas tersebut sudah termasuk PPh 22 0,9%. Masyarakat bisa menyertakan NPWP untuk memperoleh potongan pajak lebih rendah yaitu 0,45%.

Naik-turunnya harga emas ukuran kecil itu biasanya mengindikasikan risiko pada hari kerja sebelumnya.

Beberapa faktor yang mempengaruhi harga emas adalah nilai tukar rupiah, penawaran-permintaan, permintaan industri emas, isu global, tingkat inflasi, dan tingkat suku bunga.

Penguatan harga emas Antam biasanya mencerminkan kecenderungan masyarakat untuk memburu emas ritel ketika kondisi tidak kondusif, sehingga mencerminkan fungsi logam mulia sebagai instrumen yang dinilai lebih aman (safe haven) untuk masyarakat di dalam negeri.


MEREDANYA KETEGANGAN ANTARA AS-IRAN BERPELUANG MEMICU PERMINTAAN ASET BERISIKO





monexnews
Meredanya ketegangan antara AS dengan Iran pasca adanya pernyataan dari pejabat Gedung Putih Kellyanne Conway yang mengatakan bahwa masih ada kemungkinan untuk AS negosiasikan kembali kesepakatan nuklir dengan Iran berpotensi kembali memicu permintaan terhadap aset berisiko dalam jangka pendek.


Fokus lainnya pasar pada hari ini akan tertuju ke sejumlah data ekonomi penting sepeti tingkat inflasi dan penjualan retail zona Euro yang dirilis pukul 17:00 WIB, data neraca perdagangan Kanada dan AS pukul 20:30 WIB serta data indeks non-manufaktur dan pesanan pabrik AS yang dijadwalkan pukul 22:00 WIB.


EMAS


Harga emas berpotensi bergerak turun dalam jangka pendek di tengah menurunnya tensi di Timur Tengah dibalik adanya pernyataan yang positif dari Gedung Putih untuk menguji level support di $1550 - $1540. Namun, jika Timur Tengah kembali bergejolak, harga emas berpeluang untuk bergerak naik kembali untuk menguji level resisten di $1565 - $1575.



MINYAK



Harga minyak berpeluang bergerak turun dalam jangka pendek selama belum adanya berita terganggunya suplai di Timur Tengah dibalik ketegangan yang melibatkan AS, Iran dan Irak untuk menguji level support di $62.40 - $61.80. Jika harga bergerak naik, level resisten berada di $63.20 - $63.80.



EURUSD



Kembalinya minat pasar terhadap aset berisiko serta optimisnya data indeks jasa dari zona Euro yang dirilis kemarin berpeluang menopang kenaikan EURUSD dalam jangka pendek untuk menguji level resisten di 1.1230 - 1.1300. EURUSD berpotensi bergerak turun jika data inflasi dan penjualan retail zona Euro yang dirilis pukul 17:00 WIB hasilnya lebih buruk dari estimasi untuk menguji level support di 1.1160 - 1.1090.



GBPUSD



GBPUSD berpeluang bergerak naik dalam jangka pendek seiring pasar yang kembali melihat adanya harapan untuk soft Brexit menjelang pertemuan antara PM Johnson dengan Presiden Komisi Eropa Ursula Von der Leyen di London pada hari Rabu untuk menguji level resisten di 1.3200 - 1.3260. Jika bergerak turun, level support terlihat di 1.3140 - 1.3080.



USDJPY



Pesimisnya data basis moneter Jepang yang dirilis pesimis serta sentimen risk appetite berpeluang mendorong kenaikan USDJPY dalam jangka pendek untuk menguji level resisten di 108.80 - 109.30. Jika bergerak turun, level support terlihat di 108.00 - 107.50.



AUDUSD



Perilisan data lowongan pekerjaan Australia yang lebih buruk dari periode sebelumnya berpeluang memicu penurunan AUDUSD dalam jangka pendek untuk menguji level support di 0.6900 - 0.6840. Namun, AUDUSD berpeluang bergeraknaik jika pasar mempertimbangkan outlook kesepakatan dagang AS-Tiongkok untuk menguji level resisten di 0.6980 - 0.7030.