Jumat, 10 Januari 2020

WASPADAI VOLATILITAS EMAS DI TENGAH MEREDANYA TIMUR TENGAH DAN PESIMISNYA KESEPAKATAN DAGANG FASE KEDUA AS-TIONGKOK





Harga emas berpeluang bergerak turun dalam jangka pendek karena sentimen meredanya ketegangan di Timur Tengah serta DPR AS yang loloskan resolusi untuk membatasi kekuatan perang Presiden Donald Trump terhadap Iran. Namun penurunan harga emas berpeluang terbatas jika pasar mencemaskan pernyataan Presiden Trump bahwa kesepakatan dagang fase kedua dengan Tiongkok tidak akan tercapai sampai setelah pemilu 2020.

Sementara itu penurunan GBPUSD yang sudah berlangsung akhir-akhir ini berpeluang masih berlanjut setelah Gubernur Bank of England kemarin sinyalkan masih ada ruang untuk pelonggaran moneter lebih lanjut serta masih adanya kekhawatiran akan potensi Hard Brexit.

Fokus data dan acara penting hari ini : Retail Sales Australia pukul 7:30 WIB, Employment Change dan Unemployment Rate Kanada pukul 20:30 WIB, dan Average Hourly Earnings, Non-farm Employment Change dan Unemployment Rate AS pukul 20:30 WIB serta aktivitas rig AS dari Baker Hughes pukul 01:00 WIB/Sabtu.


Potensi Pergerakan

EMAS
Harga emas berpeluang bergerak turun dalam jangka pendek seiring masih dominannya sentimen minat aset berisiko karena meredanya ketegangan di Timur Tengah serta dipangkasnya kekuatan perang Trump oleh DPR AS untuk menguji level support di $1547 - $1542. Namun, harga emas berpeluang untuk bergerak naik jika pasar mencemaskan pernyataan Presiden Trump yang pesimis akan kesepakatan dagang fase kedua dengan Tiongkok tidak akan terjadi dalam waktu dekat untuk menguji level resisten di $1557 - $1562. Data penting hari ini adalah Average Hourly Earnings, Non-farm Employment Change dan Unemployment Rate AS pukul 20:30 WIB.

MINYAK
Harga minyak berpeluang lanjutkan penurunannya seperti akhir-akhir ini seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah dan menguatnya dolar AS untuk menguji level support di $59.10 - $58.50. Namun, harga minyak berpeluang bergerak naik untuk menguji level resisten di $59.90 - $60.50 jika aktivitas rig AS yang dilaporkan Baker Hughes pukul 01:00 WIB/Sabtu menunjukkan adanya penurunan dari periode sebelumnya.

EURUSD
EURUSD berpotensi begrerak turun dalam jangka pendek di tengah sedang dominannya sentimen penguatan dolar AS untuk menguji level support di 1.1070 - 1.1020. EURUSD berpeluang untuk bergerak naik untuk menguji resisten di 1.1150 - 1.1200 jika data produksi industri Perancis yang dirilis pukul 14:45 WIB dan produksi industri Italia pukul 16:00 WIB hasilnya lebih tinggi dari estimasi.

GBPUSD
GBPUSD berpeluang lanjutkan penurunannya dalam jangka pendek dibalik pernyataan Gubernur BOE yang menyuarakan adanya peluang pelonggaran moneter lebih lanjut serta kekhawatiran akan potensi Hard Brexit untuk menguji level support di 1.3030 - 1.2980. Jika bergerak naik, level resisten terlihat di 1.3110 - 1.3160.

USDJPY
USDJPY berpeluang bergerak naik dalam jangka pendek karena sentimen risk appetite dan menguatnya dolar AS untuk menguji level resisten di 109.80 - 110.30. Jika bergerak turun, level support terlihat du 109.20 - 108.70.

AUDUSD
Perilsan data penjualan retail Australia yang lebih tinggi dari estimasi pagi ini berpeluang menopang kenaikan AUDUSD untuk menguji level resisten di 0.6880 - 0.7020. Namun, jika dominannya sentimen penguatan dolar AS dan jatuhnya harga komoditas berpeluang membebani kinerja AUDUSD untuk turun menguji support di 0.6820 - 0.6780.



AS-Iran Mulai Adem, Begini Prospek Harga Emas Dunia





Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik AS-Iran yang sempat memanas memicu investor melirik komoditas logam mulia alias emas. Harga emas dunia sempat mengalami antiklimaks pada perdagangan Rabu lalu (8/1/2020).

Dikatakan antiklimaks lantaran di awal perdagangan, harga logam mulia ini melesat 2,35% ke level US$ 1,610,9/troy ons. Level tersebut merupakan harga emas tertinggi sejak Maret 2013.

Tetapi di akhir perdagangan Rabu itu, harga emas justru melemah 1,15% ke US$ 1.555,71/troy ons melansir data Refinitiv. Pelemahan emas masih berlanjut pada Kamis kemarin (9/1/2020) pukul 14:20 WIB, harga logam mulia ini melemah 0,64% ke level US$ 1.545.77/troy ons, melansir data Refinitiv. Penguatan tajam emas di awal peradangan terjadi setelah Iran menyerang setidaknya dua pangkalan militer AS di Irak dengan rudal.


Sebelumnya Selasa pekan ini (7/1/2020), Iran mengatakan memiliki 13 skenario balas dendam kepada AS yang telah membunuh Jenderal Quds Force, pasukan elite Iran, Qassim Soleimani lewat serangan pesawat tanpa awak di Bandara Baghdad.

Jenderal Soleimani adalah sosok penting nomor dua di Iran dan dikenal sebagai tokoh revolusioner. Kurang dari 24 jam setelah ancaman tersebut, Iran benar-benar melakukan balas dendam.

Pelaku pasar dibuat cemas akan risiko terjadinya perang yang lebih besar, apalagi Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengatakan akan melakukan serangan di 52 wilayah Iran seandainya Pemerintah Teheran melakukan balas dendam atas tewasnya Jendral Soleimani.

Tetapi, nyatanya sikap Trump malah melunak. Dalam pidatonya pada Rabu pagi waktu setempat (Rabu malam waktu Indonesia), Trump mengatakan Iran "sepertinya mundur" setelah melakukan serangan tersebut.

Ia juga menyatakan akan mengenakan sanksi ekonomi ke Teheran. Hal tersebut mengindikasikan Presiden AS ke-45 ini tidak akan menggunakan kekuatan militer, yang membuat sentimen pelaku pasar kembali membaik.

Presiden AS ke-45 ini juga mengatakan membuka peluang bernegosiasi dengan Iran. "Kita semua harus bekerja sama untuk mencapai kesepakatan dengan Iran yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih aman dan damai" kata Trump sebagaimana dilansir CNBC International.


Pelaku pasar dibuat lega oleh pidato tersebut, kemungkinan terjadinya perang kedua negara mengecil, dan aset-aset berisiko kembali berjaya. Hal tersebut menjadi pukulan bagi emas, kenaikan tajam dalam beberapa hari terakhir membuatnya diterpa aksi ambil untung (profit taking) harganya pun berbalik melemah.

Pelemahan emas masih berlanjut pada perdagangan Kamis kemarin, maklum saja, sejak awal tahun, kenaikan emas begitu cepat. Dalam 5 hari perdagangan, hingga Rabu lalu, ketika mencapai level US$ 1.610,9 emas menguat lebih dari 6%. Dengan ketegangan AS vs Iran yang mulai mereda tentunya banyak pelaku pasar yang mencairkan keuntungan.

Emas kini memasuki fase koreksi, yang bisa berlangsung dalam beberapa hari ke depan, mengingat pada 15 Januari nanti AS dan China akan menandatangani kesepakatan dagang fase I. Tetapi untuk jangka panjang, peluang emas untuk kembali menguat masih terbuka.

Secara teknikal, melihat grafik harian, emas yang disimbolkan XAU/USD masih bergerak di kisaran rerata pergerakan (Moving Average/MA) MA 8 hari (garis biru), tetapi masih MA 21 hari (garis merah), dan MA 125 hari (garis hijau).






Indikator rerata pergerakan konvergen dan divergen (MACD) bergerak turun di wilayah positif, sementara histogramnya mengecil. Indikator ini menunjukkan emas mulai kehabisan momentum penguatan.







Pada time frame 1 jam, emas bergerak di bawah MA 8, di kisaran MA 21, dan di atas MA 125. Indikator Stochastic bergerak naik dari wilayah jenuh jual (oversold).

Emas langsung merosot setelah menembus level US$ 1.551/troy ons yang sebelumnya merupakan support (tahanan bawah). Emas kini bergerak di kisaran US$ 1.545/troy ons, melihat indikator Stochastic yang oversold (jenuh jual), emas berpeluang naik jika mampu menembus konsisten ke atas level tersebut. Target yang dituju area US$ 1.551/troy ons yang kini menjadi resisten (tahanan atas).

Jika resisten (batas atas) mampu ditembus, emas memiliki potensi naik ke US$ 1.558/troy ons.

Sebaliknya, selama tertahan di bawah US$ 1.551/troy ons, emas berisiko terkoreksi lebih lanjut, dengan target ke US$ 1.540 sampai US$ 1.530/troy ons.

Ke depannya, emas berpotensi kembali menguat jika mampu menembus kembali level US$ 1.569/troy ons.