Rabu, 15 Januari 2020

GOLD & OIL

KEKHAWATIRAN TERGANGGUNYA KESEPAKATAN DAGANG AS - TIONGKOK ANGKAT HARGA EMAS NAIK




Harga emas naik ke level tertinggi $1552.83 di sesi Rabu (15/1) setelah komentar menteri keuangan AS, Steven Mnuchin, memicu kekhawatiran terganggunya kesepakatan dagang AS - Tiongkok.

Pernyataan dari menteri keuangan AS, bahwa AS belum akan menghapus semua tarif import produk-produk Tiongkok yang sudah berlaku hingga pembahasan tahap ke-2, memicu kekhwatiran pelaksanaan kesepakatan dagang AS - Tiongkok yang dijadwalkan ditandatangani pada jam 23:30 WIB nanti, tidak akan berjalan selancar harapan pasar, mendorong kenaikan harga emas pagi ini.

Harga emas berpotensi naik menguji resisten $1556 - $1563 bila kekhawatiran kesepakatan dagang tidak akan berjalan lancar berlanjut. Sebaliknya level support pada kisaran $1545 - $1540.

Level support : $1545 - $1540 - $1535
Level Resisten : $1556 - $1563 - $1568




HARGA MINYAK BERPOTENSI TURUN, FOKUS REDANYA KETEGANGAN TIMUR TENGAH & REDUPNYA OPTIMISME KESEPAKTAN DAGANG.




Harga minyak bergerak turun ke level terendah $57.97 di sesi hari Rabu (15/1) di tengah meredanya ketegangan di Timur Tengah dan redupnya optimisme lancarnya kesepakatan dagang AS - Tiongkok setelah pernyataan menteri keuangan AS.

Redanya ketegangan militer AS - Iran di Timur Tengah menepis kekhawatiran terganggunya produksi minyak mentah Irak, sebagai produsen nomor 2 anggota OPEC. Dan pernyataan dari pejabat AS, bahwa AS belum akan menghapus semua tarif import produk-produk Tiongkok yang sudah berlaku hingga pembahasan tahap ke-2, memicu kekhwatiran plaksanaan kesepakatan dagang AS - Tiongkok tidak akan berjalan selancar hrapan pasar, dan berpeluang kmbali mebatasi permintaan minyak mentah.

Bila kekhawatiran berlanjut, harga minyak berpotensi turun menguji support $57.70 - 57.15. Sedangkan level resisten berpeluang naik menguji resisten $58.70 - $59.25.

Level support : $57.70 - 57.15 - 56.60
Level Resisten : $58.70 - 59.25 - 59.80


sumber: monexnews



Makin Menderita, Poundsterling Melemah 6 Hari Beruntun





Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar poundsterling kembali melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (14/1/2020). Hingga hari ini, poundsterling sudah turun enam hari beruntun. Menguatnya pertanda bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) akan memangkas suku bunga di tahun ini menjadi penyebabnya.

Tidak seperti bank sentral utama dunia lainnya, BoE menjadi salah satu yang belum mengubah kebijakannya sepanjang tahun lalu. Namun kali ini ceritanya akan berbeda. Suku bunga kemungkinan besar akan dipangkas.

Gubernur BoE, Mark Carney, yang berbicara perdana di tahun ini dalam forum resmi pada pekan lalu mulai memberikan sinyal arah kebijakan moneternya.
Melansir Reuters, saat membuka acara "The Futures of Inflation Targeting Conference" di London Kamis (9/1/2020), Carney dikabarkan menyebut akan ada "respon cepat" BoE jika pelemahan ekonomi Inggris berlangsung terus-menerus. Pernyataan Carney itu menjadi sinyal bahwa BoE kemungkinan memangkas suku bunga untuk merangsang perekonomian.


Setelah pernyataan Carney tersebut, pelaku pasar melihat probabilitas sebesar 14% suku bunga akan dipangkas pada 30 Januari nanti, persentase tersebut naik dua kali lipat dibandingkan awal pekan lalu. Sementara itu, probabilitas pemangkasan di bulan Juni sudah lebih dari 50%, sebagaimana dilansir Reuters.

Sinyal dari Carney tersebut dikuatkan oleh kolega-koleganya. Silvana Tenreyro, salah satu anggota pembuat kebijakan BoE pada Jumat (10/1/2020) lalu mengatakan ia cenderung mendukung pemangkasan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan jika pertumbuhan ekonomi tidak mengalami peningkatan.

Lalu pada Minggu (12/1/2020), Gertjan Vlieghe, yang juga merupakan anggota pembuat kebijakan moneter BoE menyatakan akan memilih memangkas suku bunga dalam rapat kebijakan moneter bulan ini. Sebagaimana dilansir Reuters, Vlieghe mengatakan akan mengubah keputusannya jika data ekonomi Inggris menunjukkan perbaikan yang signifikan.

Sayangnya, data ekonomi Inggris malah menunjukkan penurunan. Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris berkontraksi 0,3% month-on-month (MoM) pada November, dari bulan sebelumnya yang tumbuh 0,1%. Data tersebut menunjukkan masih lemahnya perekonomian Inggris di kuartal IV-2019, sehingga poundsterling pun semakin tertekan.


Pada pukul 20:35 WIB poundsterling diperdagangkan di level US$ 1,2982, melemah tipis 0,05% di pasar spot melansir data Refinitiv. Pelemahan tersebut sedikit membaik setelah sebelumnya sempat melemah 0,29%.

Pelemahan tersebut berhasil terpangkas setelah rilis data inflasi AS yang mengecewakan. Data inflasi bulan Desember dirilis sebesar 0,2% sesuai dengan prediksi Reuters, tetapi lebih rendah dari pertumbuhan bulan sebelumnya 0,3%.

Sementara inflasi inti, yang tidak memasukkan sektor energi dan makanan, hanya tumbuh 0,1% lebih rendah dari prediksi Reuters dan pertumbuhan bulan sebelumnya 0,2%. Data tersebut cukup membebani dolar AS, dan poundsterling bisa memangkas pelemahan.